Pertemuan Emosional Obama-Aung San Su Kyi

0 komentar


Liputan6.com, Yangon: Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat Pertama yang mengunjungi Myanmar, sebuah negeri kontroversial yang pernah 8 tahun dicengkeram kekuasaan junta militer. Mengasingkan diri secara politik dan ekonomi dari dunia.

Tujuannya adalah untuk mengingatkan, agar reformasi politik dan ekonomi yang dilaksanakan sejak 2011 lalu tidak jalan di tempat, apalagi mundur.

Salah satu agenda Obama adalah menemui pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi. Di vila tepi danau, tempat peraih Nobel Perdamaian itu pernah menghabiskan dua dekade masa hidupnya sebagai tahanan rumah.

Turun dari mobilnya, Obama menyalami Sang Lady yang menyambutnya hangat. Sementara Menlu Hillary Clinton langsung memeluk Suu Kyi yang bertubuh mungil.

Obama mengatakan, kunjungannya ke Myanmar membuka lembaran baru hubungan dua negara. "Di sini, melalui tahun-tahun yang sulit, Suu Kyi menunjukkan keberanian dan dan tekad yang tak tergoyahkan," kata dia. "Di tempat ini, dia menunjukkan bahwa kebebasan dan harga diri manusia tak bisa diabaikan."

Sementara, Suu Kyi mengingatkan bahwa proses keterbukaan Myanmar adalah hal yang tak mudah.

"Hal tersulit dalam sebuah transisi adalah ketika kita berpikir sukses ada di depan mata. Saat itulah sesungguhnya kita harus berhati-hati, tak terlena fatamorgana keberhasilan. Kita harus bekerja sungguh-sungguh untuk keberhasilan bangsa dan menjalin persahabatan antara kedua negara, "kata dia.

Sebelum bertemu Suu Kyi, Obama menggelar pertemuan sejam dengan Presiden Myanmar, Thein Sein, yang memimpin reformasi yang ditandai pembebasan ratusan tahanan politik dan secara bertahap membuka diri secara ekonomi.

Obama memuji langkah Thein Sein dan mengatakan keterbukaan ekonomi akan membuka peluang Myanmar maju secara luar biasa. Sementara Thein Sein, yang menggenakan sarung dan kemeja putih, menegaskan komitmennya untuk memperkuat hubungan bilateral dengan AS.

Singgung Rohingya
Dalam kunjungannya Obama menyebut negeri itu sebagai Myanmar -- nama yang diperkenalkan rezim militer 23 tahun lalu. Padahal selama ini, Pemerintah AS menggunakan Burma, nama kolonial Inggris, yang juga digunakan Suu Kyi dan aktivis demokrasi lainnya.,

Dalam pidatonya, Obama mengatkan, kerlip kemajuan tak boleh padam di Myanmar. "Reformasi yang dilakukan harus memenuhi aspirasi warga," kata dia.

Obama juga mendesak Myanmar menyelesaikan persoalan Rohingya. PBB menyebut 89 orang tewas, dan 110.000 orang mengungsi akibat pecahnya kekerasan di negara bagian Rakhine.

"Saya sangat percaya, negara ini dapat melampaui segala perbedaan. Dan bahwa semua manusia yang ada di sini adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Myanmar."

Obama diperkirakan akan menyempatkan waktu bertemu dengan perwakilan organisasi masyarakat sipil, termasuk advokat yang mewakili etnis Rohingya. (CNN, Daily Mail)
Share this article :
b 0 Komentar
fb Komentar

Posting Komentar

Note: Berkomentarlah dengan bijak agar waktu kita tidak menjadi sia-sia